Skip to main content

Kisah Awal Mula Lahirnya Sekolah Pengungsi di Cisarua

Jolyon Hoff, Khadim Dai dan Muzafar Ali dengan cepat menjadi teman akrab.
Jolyon Hoff, Khadim Dai dan Muzafar Ali dengan cepat menjadi teman akrab.

Supplied: Jolyon Hoff

IKLAN

Persahabatan yang tak biasa antara pembuat film Australia dengan sekelompok pengungsi Afghanistan telah mengilhami munculnya sebuah pendekatan baru untuk mendidik para pengungsi di Indonesia.

Bangunan yang menampung Pusat Belajar Pengungsi Cisarua ini dulunya sebuah losmen. Bangunan ini sudah tak terpakai dan terbengkalai untuk beberapa waktu - namun kini penuh dengan aktivitas dan suara anak-anak bermain.

Semua keriaan ini dimulai dengan keputusan impulsif seorang warga Australia untuk bertemu dengan pengungsi.

Pusat Belajar Pengungsi Cisarua di Indonesia.
Pusat Belajar Pengungsi Cisarua di Indonesia.

Supplied: Muzafar Ali

Ketika pembuat film Jolyon Hoff memutuskan berangkat ke Cisarua, Bogor, Jawa Barat, dia tak yakin apa yang akan dia temukan di sana.

"Saya tinggal di Jakarta bersama istri. Saya tahu bahwa selama 10 atau 15 tahun, saya mendengar cerita tentang pengungsi dan manusia perahu tanpa henti. Saya sadar bahwa saya belum pernah bertemu dengan satu pun pengungsi."

"Jadi, saya berselancar daring dan saya cari tahu dimana letak pos penampungan untuk semua pengungsi dari perahu yang menuju ke Pulau Christmas. Suatu hari saya pun menuju ke sana."

Saat Jolyon dan sopirnya mengelilingi Cisarua, "Sopir saya menunjuk, 'Nah, di sana! Itu dia pengungsi!'," katanya. Tak yakin harus berkata apa, Jolyon mengulurkan tangannya dan berkata: "Hai, saya Jolyon, saya orang Australia."

Sempat kembali ke Afghanistan

Salah satu pengungsi yang ia temui di Cisarua adalah Muzafar Ali, pengungsi beretnis Hazara asal Afghanistan. Orang Hazara adalah etnis minoritas di Afghanistan, yang menghadapi penganiayaan oleh Taliban. Ketika Afghanistan berada di bawah kendali Taliban, banyak orang Hazara - termasuk keluarga Muzafar - melarikan diri ke Pakistan dan menetap di kota Quetta.

Tapi saat Taliban mulai melintasi perbatasan ke Pakistan setelah invasi Amerika Serikat, Quetta juga tidak lagi aman.

Pada 2004, saat serangan terhadap orang Hazara di Pakistan meningkat, Muzafar kembali ke Afghanistan untuk membantu membangun kembali negara kelahirannya. Tapi jejak perang ada dimana-mana. "Saya lalu berpikir, 'dari mana asal saya? Bisakah saya tinggal di sini? Apakah ini negara saya atau bukan?'."

Di negara yang dilanda perang ini, Muzafar menemukan hiburan lewat kameranya, mendokumentasikan orang-orang dan lanskap tanah airnya dan saling berbagi secara daring. Ia mendapatkan pengikut di media sosial, terutama di kalangan orang-orang Hazara yang mengungsi.

Foto milik Muzafar Ali yang menggambarkan Afghanistan beredar luas ke seluruh dunia.
Foto milik Muzafar Ali yang menggambarkan Afghanistan beredar luas ke seluruh dunia.

Supplied: Muzafar Ali

Muzafar turut membantu PBB dalam melucuti para komandan regional, yang lantas membuatnya rentan.

"Tinggal di Afghanistan begitu tidak aman, kapan pun. Pada tahun 2005, begitu saya mendapatkan pekerjaan, mobil saya terkena ranjau darat."

"Saya menerima ancaman. Bahkan dari aparat pemerintah, karena mereka juga berafiliasi dengan komandan tersebut."

Pada 2012, Muzafar - yang kini sudah menikah dan menjadi seorang ayah - yakin ia harus pergi. Ia dan keluarganya kemudian menuju ke Indonesia.

Memfilmkan pengungsi

Foto-foto Muzafar membuat Khadim Dai, seorang pemuda Hazara yang tumbuh di Quetta, terkesan. Keluarganya juga meninggalkan Afghanistan saat ia masih sangat kecil.

"Saya tahu Muzafar lewat foto-fotonya," kata Khadim. "Foto-foto negara yang tidak pernah saya lihat - pemandangan gunung yang indah itu."

Ketika berusia 16 tahun, sekolah Khadim dibom oleh teroris. "Banyak teman saya terbunuh," kenangnya.

Kakak-kakaknya sudah pindah ke Australia, dan Khadim memutuskan sudah waktunya bergabung dengan mereka. Maka ia meninggalkan ibunya dan anggota keluarganya yang lain di Quetta, dan menemukan jalan ke Indonesia.

Khadim, yang bercita-cita menjadi seorang pembuat film, mendokumentasikan pengalamannya dengan ponsel. Ia juga mendokumentasikan pengalaman orang Afghanistan lainnya setelah sampai di Cisarua.

Khadim Dai merekam adegan untuk film dokumenter Jolyon, The Staging Post.
Khadim Dai merekam adegan untuk film dokumenter Jolyon, The Staging Post.

Supplied: Muzafar Ali

Khadim melakukan berbagai upaya untuk naik perahu ke Pulau Christmas. Tapi ketika Pemerintahan PM Kevin Rudd mengumumkan bahwa pencari suaka yang tiba dengan perahu tidak akan pernah diizinkan tinggal di Australia, saudara perempuan Khadim meneleponnya dari Australia dan menyuruhnya tinggal di Indonesia.

Pencari suaka di Indonesia mendaftar ke badan pengungsi PBB (UNHCR) dan menunggu lebih dari satu tahun agar status mereka ditentukan. Dalam kunjungan ke kantor UNHCR di Jakarta, Khadim melihat putri Muzafar Ali bermain - ia pernah melihat fotonya di dunia maya.

Khadim kemudian menarik Muzafar dari antrian dan mengenalkan dirinya. Pasangan itu dengan cepat menjadi teman.

Hubungan yang kreatif

Ketika Jolyon Hoff bertemu dengan Muzafar, Khadim tengah bersamanya. Jolyon terkesan.

"Saya melihat rekaman Khadim ini dan saya langsung berkomentar, 'Wow!' Bocah berusia 17 tahun dengan telepon genggamnya mendapat rekaman hidup yang otentik dan intim sebagai pengungsi di Cisarua," kata Jolyon.

"Hari itu juga saya merasa... kami terhubung secara kreatif dan memutuskan untuk memulai sebuah proyek bersama."

Untuk pertama kali, mereka mulai membuat film pendek bersama dan mengunggahnya secara daring. Kemudian Jolyon mulai mendokumentasikan kebersamaan mereka untuk proyek film feature. Akhirnya, ketiganya beserta istri Jolyon, yakni Caroline, mulai membahas sesuatu yang lebih besar.

Muzafar dan Khadim memiliki gagasan untuk menciptakan organisasi yang membantu pencari suaka dengan aplikasi serta mendekati UNHCR serta Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) dengan rencana tersebut. Setelah tidak mendapat respon, mereka merencanakan sesuatu yang lebih matang.

"Lalu satu hal muncul. Mereka berpikir: 'Ada anak-anak yang kehilangan pendidikan ini. Kami ingin melakukan sesuatu untuk mereka'," kata Jolyon.

Anak-anak pencari suaka tak diijinkan bersekolah di Indonesia. Mereka baru bisa bersekolah begitu resmi menjadi pengungsi. Namun hambatan bahasa dan budaya menghalangi banyak orang untuk mendaftar. Jadi mereka memutuskan untuk membuka sekolah mereka sendiri.

Anak-anak belajar di dalam kelas Pusat Belajar Pengungsi Cisarua.
Anak-anak belajar di dalam kelas Pusat Belajar Pengungsi Cisarua.

Supplied: Muzafar Ali

Gagasan tersebut tak segera mendapat dukungan masyarakat. Banyak pencari suaka ketakutan aplikasi mereka untuk status pengungsi akan terpengaruh jika terlihat berkumpul dalam kelompok atau bekerja, bahkan sebagai relawan. "[Di UNHCR] ada pemberitahuannya," jelas Muzafar.

"Disebutkan bahwa pengungsi tidak diijinkan terlibat dalam kegiatan apapun. Jadi mereka yakin mereka tidak diperbolehkan untuk bersosialisasi satu sama lain."

Tapi Muzafar sudah bertekad.

"Kami adalah pengungsi, tak memiliki status hukum, tak bisa bekerja, tapi bukan berarti kami tak bisa bersosialisasi. Kami tak bisa mendapatkan pendidikan atau kami tak bisa memberikan pendidikan."

Jolyon dan Caroline menyewa sebuah bangunan di Cisarua, sedangkan Muzafar dan Khadim mengumpulkan relawan guru dari komunitas mereka. Lalu Pusat Pembelajaran Pengungsi Cisarua pun lahir.

Perkembangan dan perubahan

Setelah beberapa minggu, kapasitas sekolah ini pun penuh. Mereka segera pindah ke gedung lebih besar, dan mulai bekerja untuk membuat sekolah ini berkelanjutan.

Sebuah organisasi nirlaba didirikan di Australia untuk mengumpulkan dana, lalu sumbangan buku dan peralatan segera melimpah. Akademisi dan pendidik mulai mengunjungi sekolah ini secara reguler. Serikat Pendidikan Australia (AEU) menggunakan Dana Perwalian Internasional mereka untuk mengirim guru ke Cisarua guna membimbing para relawan.

Anak-anak bermain di luar kompleks Pusat Belajar Pengungsi Cisarua saat gerimis tiba.
Anak-anak bermain di luar kompleks Pusat Belajar Pengungsi Cisarua saat gerimis tiba.

Supplied: Muzafar Ali

Selain memberikan pendidikan, pusat ini juga mempertemukan komunitas yang sebelumnya pernah ketakutan untuk berhubungan satu sama lain.

Fakta itu menjadi jelas bagi Muzafar pada hari ketika ia meninggalkan Cisarua, karena pengajuan suakanya diterima di Australia.

"Saya ingat hari-hari awal ketika orang-orang hidup seperti orang asing, mereka hidup secara individual. [Tapi] pada hari ketika kami meninggalkan Indonesia, sangat emosional. Saat mereka mengucapkan selamat tinggal pada Anda."

Khadim juga akhirnya mendapat tempat tinggal baru. Pilihan pertamanya adalah Australia, untuk bergabung kembali dengan saudara laki-laki dan perempuannya, namun tawaran suaka untuknya berasal dari AS.

Kini ia tinggal di Los Angeles, tenpat dimana ia mengerjakan film dokumenter feature pertamanya.

Sebuah suvenir yang ia bawa bersamanya adalah brosur yang didistribusikan di Indonesia oleh Pemerintah Australia dengan tulisan: "Tidak mungkin. Anda tidak akan mungkin menjadikan Australia kampung halaman anda." Brosur itu bertujuan untuk mencegah pencari suaka untuk nekat naik perahu.

"Saya tak mendapat penolakan langsung dari Kedutaan Australia. Tapi brosur itu seperti penolakan langsung," katanya. "Saat di mana saya ingin bersama keluarga saya... mereka tak mengizinkan menjadikan Australia sebagai rumah saya."

Anak-anak praktek bahasa Inggris di Pusat Belajar Pengungsi Cisarua.
Anak-anak praktek bahasa Inggris di Pusat Belajar Pengungsi Cisarua.

Supplied: Muzafar Ali

Muzafar belajar dan membangun kehidupan baru untuk dirinya dan keluarganya. Ini sangat penting bagi anak perempuannya yang berusia empat tahun.

"Saya merasa sebagai salah satu yang sangat beruntung bisa datang ke sini. Baru-baru ini saya menemukan anak perempuan saya memiliki masalah pendengaran. Ia mengalami gangguan pendengaran. Ketika datang ke sini, ia berteman untuk pertama kali dalam hidupnya."

"Sekarang ia akan bersekolah, belajar Auslan, bahasa isyarat, dan juga belajar berbicara. Jadi saya sangat senang dan merasa beruntung karena datang ke sini."

Dari berbagai belahan dunia, Jolyon, Muzafar dan Khadim terus mendukung sekolah tersebut. Mereka telah menyaksikan banyak perubahan. UNHCR baru saja mengubah kebijakan untuk terlibat dalam kegiatan, dan beberapa sekolah pengungsi lainnya juga telah berdiri di Cisarua.

The Staging Post, film Jolyon Hoff tentang komunitas di Cisarua, diputar perdana di Melbourne pada tanggal 18 Juni menandai Pekan Pengungsi 2017.

Diterbitkan Senin 19 Juni 2017. Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.