Skip to main content

Kisah Tony Abbott dan Perancang Jaket Kulitnya

Tony Abbott models a leather jacket.
Tony Abbott tampil mengenakan jaket kulit kanguru pemberian seorang perancang busana yang menganggap rancangannya cocok untuk mantan PM Australia ini.

ABC News: Nick Haggarty

Beberapa minggu setelah kehilangan kursi perdana menteri Australia, Tony Abbott sedang menikmati makan siang di Sydney tatkala seorang pria kekar datang memberinya hadiah.

Pria itu, Mark Wales, menyerahkan sebuah jaket kulit hitam atas nama teman mereka, anggota parlemen dari Partai Liberal, Andrew Hastie.

Wales merancang jaket tersebut dan menyempatkan untuk mengantarnya secara langsung saat berada di Australia setelah tiba dari New York.

Jaket tersebut, menurut Wales yang juga seorang pengusaha muda, dibuat untuk tipe orang tertentu.

Seseorang yang telah mengalami sejumlah pukulan, teguh pada nilai-nilai yang mereka yakini, serta seseorang yang tak boleh dipandang enteng.

Wales menganggap Tony Abbott cocok dengan gambaran ini. Dan sebaliknya, sang mantan PM Australia itu pun menyukai penampilannya saat mengenakan jaket kulit tersebut.

"Perlu waktu lama untuk membuat seseorang seperti saya bisa terlihat keren. Tapi orang bilang hal itu berhasil," ujar Abbott kepada ABC sembari tertawa.

Seperti Abbott, Wales telah mengalami beberapa pukulan signifikan dan hidupnya.

Sebelum beralih karir ke bidang fesyen, Wales membela negaranya sebagai anggota satuan elit Special Air Services Resiment (SASR) di Afghanistan.

Pengalaman itu membawa dampak besar bagi kesehatan mentalnya. Dunia fesyen kemudian memberinya fokus dan kemauan.

Dia selalu tergoda antara panggilan bertempur dan iming-iming catwalk. Seorang anak yang tumbuh dari daerah pedalaman yang ingin terlihat keren.

Tapi pakaiannya seringkali penuh debu.

Tony Abbott models his kangaroo-skin leather jacket in his office in Parliament House.
Tony Abbott mengenakan model jaket kulit kanguru di ruang kerjanya.

ABC News: Nick Haggarty

Wales tumbuh di lanskap kuno dan kering di wilayah Pilbara, Australia Barat, bermain perang-perangan di tanah merah bersama saudara-saudaranya.

Saat SMA, seorang teman menunjukkan foto tentara Inggris berpakaian hitam yang menyerbu Kedutaan Besar Iran di London untuk menyelamatkan sandera.

"Seketika saat saya melihatnya, saya langsung pikir, inilah yang ingin saya lakukan," ujarnya kepada ABC.

Dia terpilih menjadi anggota untuk SASR di tahun 2004.

A man called Mark Wales in his SAS uniform
Mark Wales saat bertugas sebagai anggota pasukan elit SAS in Afghanistan

supplied

Selama bertugas di Afghanistan, pakaian seragam operasi khusus mengalami modifikasi. Dia mengagumi perubahan desain seragam itu namun menyimpan gairahnya pada fesyen untuk dirinya sendiri.

"Seragam menjadi lebih pas dan minimalis, menghilangkan bagian-bagian yang menghalangi," katanya.

Gagasannya membuat jaket model pada peralatan tempur muncul di medan perang. Namun pertama-tama dia harus membawa idenya itu pulang.

Saat dia menyelesaikan tugasnya, Wales telah menyaksikan kematian dan kehancuran.

Namun, kerusakan sebenarnya terkait dengan mental dan tidak ada rancangan pakaian yang bisa memperbaikinya.

"Saya tidak bisa konsentrasi, selalu merasa hambar, tidak ada emosi sama sekali. Terkadang saya tidak merasakan apapun," katanya.

Dia menyingkirkan perasaan-perasaan tersebut saat diterima di sebuah perguruan tinggi bisnis ternama di Amerika Serikat. Teman dekatnya cukup khawatir terhadap Wales.

Salah satunya adalah Hastie, juga mantan anggota pasukan SASR.

Returning from war can be hard
Anggota parlemen dari Partai Liberal Andrew Hastie.

Jed Cooper

"Secara fisik Mark seperti perisai. Badannya besar dan berotot dan terlihat tak terkalahkan. Tidak ada yang tahu dia sedang berjuang (secara mental)," kata Hastie. "Dia menempuh risiko pergi ke AS."

Tapi belajar di luar negeri membantu Wales menjalani rutinitas.

"Saya memiliki kesempatan beristirahat dengan baik. Saya tidur selama sembilan jam tiap malam," katanya.

Dia makan secara teratur, berlatih dan surfing, serta "melatih kembali" otaknya.

"Semua hal tersebut secara bertahap menjadi awal yang bagus untuk pemulihan," kata Wales.

Tak lama kemudian ia pun siap meninjau kembali idenya untuk memadukan perang dan fesyen.

Three men, Mark Wales in middle, walk towards camera carrying guns
Jaket kulit rancangan Mark Wales terinspirasi pengalamannya sebagai anggota pasukan elit serta Jason Bourne dan Terminator.

Supplied

Jaket kulit kanguru rancangannya terinspirasi oleh seragam SASR. Namun ada juga pengaruh lainnya.

Desainnya terpengaruh oleh Terminator dan Jason Bourne.

"James Bond agak bersih sementara Top Gun sedikit sombong," ujar Wales tertawa.

Dia ingin jaketnya beresonansi dengan personil berseragam, makanya dia mengundang veteran untuk menjadi modelnya.

Dia bahkan mengundang salah satu petinggi Amerika, purnawirawan jenderal bintang empat AS dan sekarang Menteri Pertahanan James "Mad Dog" Mattis.

James Mattis sports roo-skin jacket
Menteri Pertahanan AS James 'Mad Dog' Mattis mengenakan jaket rancangan Mark Wales.

Supplied

Mattis dikagumi karena kecerdasan strategi dan antusiasmenya dalam berbicara dengan tentara junior, sering menyampaikan nasehat jelas dan tegas.

Wales merupakan salah seorang pengagumnya. Dia memuji Mattis karena memberinya inspirasi untuk terus melangkah.

"Dia menghadiri acara minum teh saat saya di sekolah bisnis," kata Wales.

"Dia mengatakan hal terbaik yang bisa kami lakukan demi keamanan negara adalah terjun dan memulai bisnis untuk membuat ekonomi lebih kuat," katanya.

Dia bertanya-tanya apakah Mattis suatu hari nanti akan mengenakan jaket itu di zona perang.

Mark Wales leaning against a white brick wall.
Mark Wales kini menjalani hidup sehat dan bahagia.

Supplied

Saat ini, Wales menjalani hidup yang bahagia dan sehat. Namun dia membaca banyak cerita tentang veteran yang berjuang secara mental.

"Pertanyaan konstan yang banyak kita tanyakan adalah dimana letak masalahnya," katanya.

"Apakah faktanya orang mengalami penyakit mental setelah kembali dari perang dan fakta bahwa kondisi mereka tidak dilaporkan secara benar. Atau apakah fakta bahwa jika banyak orang mengatakan Anda hancur, lalu Anda mulai mempercayainya?" ujarnya.

"Saya rasa mungkin kombinasi dari semua itu," tambah Wales.

Karena itulah dia ingin fokus pada hal-hal positif.

"Untuk setiap cerita mengenai (veteran) yang tidak mendapatkan dukungan dengan baik, Anda akan mendapati mereka (veteran) yang mendirikan gym atau mengikuti lari maraton," katanya.

"Ada hal-hal dimana mereka melakukan pencapaian besar," kata Wales.

Pencapaian terakhirnya adalah membintangi serial TV Survivor di Channel 10 di Australia.

Dan, Wales berhasil menyelundupkan jaket kulitnya ke pulau yang dipakai untuk syuting acara tersebut.

Diterbitkan Jumat 11 Agustus 2017 oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News di sini.