Skip to main content

Wisata Toleransi Di Gereja Ayam Magelang Menarik Perhatian Dunia

Sebuah gedung dengan bentuk seperti unggas
Banyak kesalahpahaman soal bentuk gedung, tapi pesannya kuat yakni untuk mempromosikan perdamaian

Mirip merpati atau ayam? Demikian pertanyaan yang selalu diajukan orang mengenai bangunan unik yang populer dengan sebutan Gereja Ayam yang terletak di tengah perbukitan di Magelang Jawa Tengah.

Apapun itu, yang pasti orang menyukai Gereja Ayam yang kini menjadi destinasi wisata baru di propinsi itu yang mendunia selain Candi Borobudur tentunya.

Sebutan Gereja Ayam bersumber dari bentuk bangunannya. Dari jauh bangunan ini terlihat seperti ayam sedang duduk atau mengeram di hamparan bukit yang hijau.

Sejumlah lukisan yang gambarkan budaya Indonesia
Lukisan di lantai empat menggambarkan keberagaman budaya di Indonesia.

Foto: William Wenas

Sejak menjadi lokasi syuting film populer Ada Apa Dengan Cinta (AADC) II, animo masyarakat untuk berkunjung ke tempat ini sangat besar.

Setiap hari ratusan pelancong datang berkunjung dan jumlahnya akan membengkak pada akhir pekan atau hari libur panjang.

Namun sebutan Gereja Ayam ini oleh pemilik sekaligus pendiri bangunan itu, Daniel Alamsyah (75 tahun) dinilai kurang tepat.

William Wenas, 37 tahun, pengelola Gereja Ayam yang juga putera ke-5 dari Daniel Alamsjah mengatakan sejak awal ayahnya merancang bangunan itu berbentuk burung Merpati, symbol perdamaian dan roh Kudus seperti petunjuk di dalam mimpinya.

Ia juga menambahkan tidak hanya bentuk bangunan itu saja yang disalahartikan pengunjung, tapi konsep bangunan yang diberi nama rumah doa Bukit Rhema sendiri juga agak kerap keliru dipahami warga yang mengidentikan rumah doa dengan gereja.

"Kita memiliki tim yang selalu menjelaskan pada pengunjung kalau ini bukan gereja, tetapi rumah doa yang mungkin mengusung konsep berbeda dengan rumah doa lain karena rumah ini diperuntukan bagi semua agama," tambah William.

Bukan gereja tapi untuk semua orang

Seorang perempuan sedang menatap dinding yang penuh dengan lembaran kertas
Pengunjung bisa menulis dan menggantungkan doa serta harapan mereka dalam gedung.

Foto: William Wenas

Karena bukan gereja, menurut William rumah doa Bukit Rhema ini tidak memiliki jadwal kebaktian rutin.

Sebaliknya bangunan yang didirikan oleh ayahnya menyediakan ruang bagi semua pemeluk agama yang hendak berdoa.

Selain memiliki sudut bagi umat Kristiani untuk berdoa, pengelola rumah doa ini juga memilihkan sebuah ruangan khusus yang menghadap kearah Kiblat bagi umat muslim.

"Karena banyak pengunjung yang beragama Islam dan menanyakan fasilitas mushola untuk sholat, akhirnya kami berinisiatif membuat space khusus. Kita pilih sudut di basement yang khusus menghadap ke kiblat," tutur William.

Kesalahan persepsi ini diakui seorang pengujung Mimiva, yang memberikan kesaksian di laman khusus mengenai Bukit Rhema atau Gereja Ayam.

Pesan toleransi antar umat beragama ini juga diapresiasi oleh pengunjung Gereja Ayam lain yang juga meninggalkan komentarnya di laman pengunjung.

"Semua teman saya memiliki keyakinan yang berbeda-beda tetapi kami merasakan kedamaian dan toleransi di tempat ini," kata Dr. Herman Trianto, SpPD.

Untuk memperkuat pesan toleransi beragama dan keragaman budaya Indonesia, di bagian dalam Bukit Rhema atau Gereja Ayam juga menampilkan keragaman budaya dari seluruh propinsi di Indonesia hingga kekayaan alam dan budaya propinsi Jawa Tengah hingga pesan bahaya anti narkoba.

Dibangun mengikuti mimpi

Daniel Alamsyah, 75 tahun, membangun Gereja Ayam diilhami oleh sebuah mimpi aneh yang dialaminya pada tahun 1988.

Dalam mimpi itu, Daniel yang saat itu masih berstatus seorang buruh perusahaan swasta di Jakarta diminta membangun sebuah rumah doa di sebuah perbukitan asing yang belum pernah dikunjunginya.

Mimpi tersebut dialaminya hingga beberapa kali, sampai pada akhirnya perjumpaan dengan seorang penyandang disabilitas di saat ia mengunjungi Candi Borobudur mengantarkan Daniel ke sebuah bukit di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang yang sama persis dengan bukit yang dilihat di dalam mimpinya.

Sembilan orang berpose di depan bangunan
Daniel Alamsjah (keempat dari kiri) adalah penggagas yang membangun 'Gereja Ayam'

Foto: William Wenas

Berbekal keimanan dan keyakinannya pada petunjuk didalam mimpi tersebut, akhirnya baru pada tahun 1992, Daniel Alamsyah memulai pembangunan proyeknya tersebut.

William Wenas mengisahkan selama tiga tahun ayahnya rutin pergi ke Magelang dari Jakarta untuk membangun rumah do'a Bukit Rhema tersebut.

Rutinitas ini sempat ditentang keras oleh keluarga Daniel Alamsyah, anaknya yang berjumlah 9 orang selalu mempertanyakan keputusan ayahnya.

"Kita dulu anak-anaknya sering protes, Kenapa setiap ada uang malah buat bangun rumah doa. Secara logika papa gak mungkin mampu karena papa cuma karyawan biasa. Kalau bukan Tuhan yang menuntunya tidak akan mungkin papa bisa," tuturnya.

Pembangunan Gereja Ayam ini sempat tertunda karena krisis moneter dan bangunan itu sempat terbengkalai lama.

Namun pihak keluarga secara bertahap merampungkan pembangunannya hingga kini menjadi salah satu destinasi wisata yang ramai.

Pengunjung yang masuk dikenakan biaya Rp 15 ribu yang kemudian digunakan untuk melanjutkan pembangunan tempat tersebut yang sebelumnya terbengkalai.

Selain digunakan sebagai lokasi pengambilan gambar film Apa Apa Dengan Cinta (AADC) II, pembangunan gereja yang sempat terbengkalai ini mendapat pemberitaan besar di media baik di Indonesia maupun di media internasional di tahun 2015.

Setelah itu pengunjung banyak yang tertarik untuk melihat keunikan bangunan tersebut.

Daniel Alamsyah dan keluarga yang telah bermukim di Magelang sejak tahun 2000 lalu mengaku bersyukur kini rumah doa Bukit Rhema bisa menjadi berkat untuk masyarakat sekitarnya.

"Rumah doa ini dulu sempat diberitakan jadi tempat yang tidak baik, karena terbengkalai, tapi Puji Tuhan sekarang bisa menjadi berkat buat banyak orang." kata William.