Skip to main content

Perjuangan Petenis Australia Jelena Dokic Lepas Dari Kekerasan Ayahnya

Di tahun 2005, Jelena Dokic kembali ke Australia
Di tahun 2005, Jlena Dokic kembali ke Australia setelah sebelumnya pindah ke Yugoslavia.

AAP: Julian Smith

Mantan petenis Australia Jelena Dokic baru saja menerbitkan buku biografi berjudul Unbreakable menceritakan kehidupannya sebagai petenis yang pindah dari Yugoslavia ke Australia, kemudian kembali ke Serbia sebelum pindah lagi ke Australia, dan juga tindak kekerasan yang diterimanya dari ayahnya Damir selama dia berkecimpung di dunia tenis.

Di usia 16 tahun, petenis Jelena Dokic menjadi sosok yang terkenal di Australia dan juga seluruh dunia.

Di lapangan rumput yang terkenal di Wimbledon, remaja tersebut menjadi petenis berperingkat terendah yang mengalahkan unggulan teratas ketika petenis nomor satu dunia kala itu, Martina Hingis.

Dokic yang ketika itu menyandang peringkat 129 dunia menang dia set langsung.

Jelena Dokic lalu melaju ke perempat final turnamen tersebut dan banyak pihak memperkirakan dia akan menjadi bagian dari tenis elit dunia bertahun-tahun kemudian.

Hal yang tidak menjadi kenyataan bukan karena prestasi Dokic di dalam lapangan namun lebih banyak karena masalah yang dihadapinya di luar lapangan.

Lahir di Osijek, bekas wilayah Yugoslavia, keluarga Dokic melarikan diri dari perang d negara asalnya ke pinggiran kota Sydney.

Namun saat ia terus menorehkan prestasi di sejumlah turnamen internasional, dunia tenis menyadari adanya anggota keluarga Dokic lainnya, yaitu ayahnya Damir.

Ia selalu hadir dan vokal di sekitar lapangan dimana Jelena bertanding dengan berbagai tingkah dan juga ucapannya yang kadang menimbulkan kontroversi.

Dan puncaknya terjadi di tahun 2000 ketika Damir dilarang hadir dalam turnamen WTA selama enam bulan setelah berbagai perilakunya di beberapa turnamen besar.

Damir Dokic sudah lama menjadi kontroversi namun dampak tindak kekerasannya baru terungkap sekarang
Damir Dokic sudah lama menjadi kontroversi namun dampak tindak kekerasannya baru terungkap sekarang

Reuters

Di turnamen Australia Open, ia terlibat bentrok fisik dengan kru kamera. Di Wimbledon, ia menghancurkan telepon reporter TV. Di AS Terbuka ia meluapkan kemarahan saat makan siang karena harga salmon yang dianggapnya terlalu mahal.

Ketika sebuah majalah tenis Australia menyarankan agar Damir mendapat bantuan psikologis untuk mengatasi kemarahannya, ia bereaksi dengan mengancam untuk memindahkan keluarganya kembali ke Yugoslavia.

Ternyata, itu bukan ancaman kosong. Merasa tersinggung dengan liputan media yang tak berimbang di Australia, Damir dan Jelena kembali ke Beograd, dan pada tahun 2001, Jelena Dokic kembali menjadi seorang warga negara Yugoslavia.

Reaksi pecinta tenis di Australia sejak itu berubah.

Ketika bertanding di Australia Terbuka di tahun 2001, Jelena Dokic dicemooh oleh penonton tuan rumah saat ia kalah di babak pertama melawan petenis nomor satu dunia ketika itu Lindsay Davenport.

Ayah Jelena Damir menuduh bahwa undian pertandingan itu sudah diatur agar Jelena menemui lawan berat dan kalah.

Jelena Dokic terus melanjutkan karirnya dengan bertanding di bawah bendera Yugoslavia, dan yang kemudian berubah menjadi Serbia dan Montenegro, dan mencapai peringkat keempat dalam daftar WTA.

Tapi, seperti yang sudah diduga pada saat itu, Jelena Dokic mendapat perlakuan buruk terus menerus dari ayahnya.

Di lapangan, Dokic selalu menunjukkan bakat yang luar biasa. Di luar lapangan, banyak masalah yang dihadapinya
Di lapangan, Dokic selalu menunjukkan bakat yang luar biasa. Di luar lapangan, banyak masalah yang dihadapinya.

Andrew Winning: Reuters

Saat berada di luar Australia-lah, keduanya menjadi terasing, Jelena Dokic mengatakan bahwa ia dan ayahnya tidak berada "pada gelombang yang sama" dan bahwa ia "tak bisa tinggal bersamanya atau bekerja dengannya".

Di tahun 2005, setelah berbulan-bulan absen dari pertandingan karena berjuang menghadapi mengalami cedera dan masalah pribadi, Jelena Dokic mengisyaratkan niatnya untuk kembali ke Australia.

"Saya orang Australia, saya merasa seperti orang Australia dan saya ingin bermain untuk Australia lagi," katanya.

Tapi kembalinya Jelena Dokic ke Australia dan perpisahannya dari sang ayah tak banyak mengubah karir tenisnya.

Ia hanya turun ke lapangan secara sporadis karena cedera dan masalah kesehatan mental, yang sekali lagi selalu membayanginya.

Semua itu kemudian seperti hutang yang terbayarkan ketika dia tampil di Australia Terbuka di tahun 2009.

Jelena Dokic mencapai perempat final, namun pertandingan paling menegangkan terjadi di babak keem[at ketika dia mengalahkan unggulan ke-29 Alisa Kleybanova, padahal Jelena sudah mengalami cedera dan kelelahan sebelumnya.

Penampilan Dokic di turnamen tenis Australian Open 2009 ketika dia kembali membela Australia
Penampilan Dokic di turnamen tenis Australian Open 2009 ketika dia kembali membela Australia.

AAP: Dan Peled

Para penonton yang hadir di lapangan begitu bergemuruh malam itu, menginginkan agar petenis perempuan -yang pernah mereka cemooh -ini meraih salah satu kemenangan terbesar dalam karirnya.

Jelena Dokic bermain dengan penuh semangat dan mencapai hasil yang sama yang pernah dicapainya 10 tahun lalu di Wimbledon, perempat final turnamen grand slam.

Namun, drama tak pernah menjauh. Ketika media Australia mulai melaporkan riwayat kekerasan Damir terhadap putrinya, sang ayah mengancam akan meledakkan Duta Besar Australia untuk Serbia dengan granat tangan.

Damir kemudian ditangkap dan mengatakan bahwa ancaman itu sebenarnya adalah hanya guyonan.

Tapi Jelena Dokic telah melepaskan diri dari sang ayah, dan memenangi gelar WTA pertamanya dalam delapan tahun terakhir di Kuala Lumpur tahun 2011.

Penampilan tunggal turnamen grand slam terakhirnya terjadi di Australian Open tahun berikutnya, sebelum karirnya menurun dan mundur di tahun 2014.

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.