Skip to main content

Makin Marak Pasangan Antar Budaya Di Australia

Kayla Medica dan William Hwang
Kayla Medica dan William Hwang bertemu di media sosial dan "langsung cocok".

Supplied

Ketika Kayla Medica dan William Hwang berjalan menyusuri jalan sambil berpegangan tangan, orang-orang akan memperhatikan mereka lekat-lekat.

Poin kunci:

  • Sekitar satu dari tiga pernikahan yang terdaftar di Australia bersifat antar budaya
  • Situs kencan termasuk OKCupid dan Tinder mengarah ke lebih banyak hubungan antar budaya
  • Penerimaan keluarga bisa menjadi rintangan umum bagi banyak pasangan antar budaya

Dan hal itu bukan hanya karena warga berusia 23 tahun yang tinggal di pinggiran Kota Sydney ini terasa lebih tinggi daripada pacarnya yang keturunan Tionghoa-Burma.

"Kami banyak diperhatikan orang ... masalah tinggi badan mungkin salah satu alasannya, tapi [perbedaan] ras adalah yang benar-benar memicu komentar orang saat mereka lewat," katanya.

"Pernah saya ditanya oleh seseorang apakah saya tidak bisa mendapatkan anak laki-laki kulit putih, dan saya keheranan, 'Apa?'"

Kayla, dari latar belakang Australia-Eropa, telah bersama dengan pasangannya selama lebih dari satu setengah tahun.

Pasangan ini bertemu di Instagram saat mereka mengelola akun bisnis di industri serupa, dan mengira mereka bisa berkolaborasi.

Meski mereka "benar-benar langsung cocok", Kayla mengatakan mereka resmi berpasangan setelah bertemu secara langsung karena mereka sangat berbeda secara fisik.

Tapi mereka terus berbicara dan sangat menikmati "percakapan’ diantara mereka.”

Kayla mengatakan sementara keluarganya telah menerima hubungan mereka, orang tua dari pasangannya bukanlah sosok yang sangat terbuka terhadap keputusan anak mereka yang berusia 34 tahun untuk berkencan dengan "gadis kulit putih".

Tapi dia mengetahui ibu pasanganya terkesan dengan pasta buatannya sendiri.

Kayla Medica dan William Hwang
Kayla Medica mengatakan mereka "sering ditatap orang" saat mereka berjalan di jalan.

Supplied

Menemukan masakan baru - mencoba makanan yang tidak akan pernah dipertimbangkan untuk dibeli dari toko - dan belajar tentang budaya yang berbeda biasanya dilihat sebagai manfaat dari hubungan antarbudaya.

"Ibunya memberinya makanan setiap akhir pekan, saya memakan sebagian, dan saya seperti, 'Saya tidak tahu apa yang ada di sini, tapi makannya sangat enak'," kata Kayla.

Berbagai tradisi seperti Natal juga membuka pintu baru.

"Karena dia tidak pernah [merayakan] Natal sebelumnya - saya sangat gembira dan mulai mendekorasi apartemen.

Tantangan keluarga membantu menempa ikatan

Nathalie Lagrasse, 37 tahun, dan pacarnya Nicole Domonji, 28 tahun, menghadapi rintangan bersama agar keluarga mereka dapat menerima seksualitas mereka, karena kesamaan antara budaya Mauritania dan Slowakia-Serbia.

Nathalie Lagrasse dan Nicole Domonji
Nathalie Lagrasse dan Nicole Domonji memiliki tantangan budaya yang sama karena referensi seksualitas mereka.

Supplied

Nathalie mengatakan bahwa keluarga Australia dari pasangan-pasangan sebelumnya lebih terbuka terhadap homoseksualitas.

Ini perbedaan budaya tapi agama juga merupakan faktor, ungkapnya,

"Keluarga dekat saya sudah tentu tidak mempersoalkan seksualitas saya, tapi keluarga besar tidak akan terlalu menerima sebagaimana keluarga dekat saya.”

"Kakek buyut Nicole masih tidak menerima tentang dia menjadi gay.

Nathalie, dari latar belakang Mauritian, percaya lebih mudah berkencan dengan seseorang yang menghadapi tantangan serupa karena saling pengertian.

"Saya ingat saya pernah menjadi pasangan dari orang Australia sebelumnya dan mereka tidak bisa memahami situasinya, seperti mengapa keluarga saya begitu ketinggalan [sikapnya], dan sangat menantang untuk menerima saja [kenyataan dia gay]," katanya.

Efek Tinder

Ada semakin banyak pasangan antar budaya di Australia seiring negara ini menjadi lebih beragam secara etnik.

Pada tahun 2016, sekitar 30 persen perkawinan yang terdaftar adalah pasangan yang lahir di berbagai negara, dibandingkan dengan 18 persen di tahun 2006, menurut Biro Statistik Australia.

Proporsi perkawinan antara dua orang warga kelahiran Australia secara bertahap menurun selama 20 tahun terakhir - dari 73 persen dari seluruh total perkawinan di tahun 2006, menjadi 55 persen pada tahun 2016.

Nathalie Lagrasse dan Nicole Domonji
Nathalie Lagrasse dan Nicole Domonji termasuk di antara pasangan dengan latar belakang budaya berbeda yang semakin marak belakangan ini.

Supplied

Kim Halford, seorang profesor psikologi klinis di University of Queensland, mengatakan bahwa zaman sudah jelas telah berubah.

"Di keluarga saya sendiri, kami memiliki keturunan Jerman, Inggris, Jepang, Skotlandia dan Meksiko, yang memberi kami permadani tradisi budaya yang kaya untuk digali," kata Profesor Halford.

Sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa kencan online juga dapat berkontribusi terhadap meningkatnya pernikahan antar budaya.

Ekonom Josue Ortega, dari Universitas Essex, dan Philipp Hergovich, dari Universitas Wina, menggambarkan proporsi perkawinan antar ras baru di antara pengantin baru di AS selama 50 tahun terakhir.

Sementara persentasenya terus meningkat secara konsisten, mereka juga menemukan lonjakan yang bertepatan dengan peluncuran situs web dan aplikasi kencan seperti Match.com dan OKCupid.

Salah satu lompatan terbesar dalam perkawinan rasial beragam adalah pada tahun 2014 - dua tahun setelah Tinder diciptakan.

"Model kami juga memprediksi bahwa pernikahan yang diciptakan di masyarakat berkat kencan online cenderung lebih kuat," Dr Ortega menulis dalam makalahnya The Strength of Absent Ties: Integrasi Sosial melalui Kencan Online.

Menavigasi 'tantangan menarik'

Michael dan Pauline Dignam berpegangan tangan
Michael dan Pauline Dignam menikah pada akhir tahun 2016.

Supplied

Ketika ditanya tentang manfaat hubungan antarbudaya, warga Sydney Pauline Dignam dengan cepat membalas dengan kata "bayi yang lucu", yang dengannya dia dan suaminya, Michael, tertawa.

Pasangan tersebut, yang bertemu di sebuah gereja pada awal 2015, telah menemukan sejumlah perbedaan budaya yang unik.

Misalnya, Michael belajar bahwa orang Filipina umumnya banyak mengkonsumsi nasi - dan suka makan nasi dengan segalanya.

"Awalnya ketika saya mulai mengunjungi tempat mertua, ada kalanya kita memiliki daging sapi stroganoff dan saya mencari nasi," kenang Pauline.

Michael dan Pauline Dignam sarapan
Pauline Dignam pada awalnya merasa aneh bahwa masakan daging sapi stroganoff tidak disajikan dengan nasi.

Supplied

Michael juga mencatat "tantangan menarik" dalam berurusan dengan "waktu orang Filipina" - yang mengacu pada stereotip warga Filipina tentang orang yang sering terlambat.

Namun, dia mengatakan bahwa istrinya telah menjadi lebih tepat waktu setelah pernikahan mereka, dan perhatiannya pada keluarga juga memberi dampak positif pada keluarganya.

Analis keuangan berusia 29 tahun tersebut mengatakan bahwa selama konseling pernikahan mereka, Pauline mengatakan bahwa dia ingin ibunya tinggal bersama mereka dan membantu merawat anak-anak mereka di masa depan.

Foto pre-wedding Michael dan Pauline Dignam
Foto pre-wedding Michael dan Pauline Dignam

Supplied

"Orang Filipina sangat berorientasi keluarga ... diharapkan keluarga akan merawat orang tua mereka," katanya.

"Saya belum sepenuhnya menerima sepakat dengan hal itu, itulah yang dia inginkan, jadi saya harus merasa nyaman dengan gagasan itu.

"Dan untungnya bagi kami, kami memiliki hubungan yang sangat baik dengan mertua kami ... jadi tidak apa-apa untuk membuat saya memahami gagasan itu."

Profesor Halford mengatakan bahwa ini bisa menjadi tantangan untuk mengenali, menghargai dan mengakomodasi perbedaan budaya yang halus dalam standar hubungan, atau kepercayaan tentang seperti apa seharusnya sebuah hubungan itu.

"Di banyak negara Barat pasangan diharapkan dapat mengembangkan kehidupan mereka sendiri yang terlepas dari keluarga asal mereka," katanya.

"Namun, di China dan budaya kolektivis lainnya, menjaga hubungan yang kuat dengan orang tua dan keluarga besar lainnya diharapkan terjadi."

'Ini seperti menonton Steve Irwin'

Monique Schierz-Crusius dan Stuart Binfield
Stuart Binfield, difoto bersama istri Monique Schierz-Crusius, mengaku senang memiliki keluarga di luar negeri.

Supplied

Warga Australia, Stuart Binfield dan istrinya yang berlatar belakang Afrika Selatan-Jerman, Monique Schierz-Crusius, sudah menjalin hubungan selama lebih dari tiga tahun.

Monique, 28 tahun, meringkas perbedaan budaya mereka sebagai "dia cukup santai dan saya cukup Jerman".

"Saya cukup tepat waktu ... dan suka mengatur segalanya dan orang Australia sedikit lebih santai dan santai," katanya, menggunakan "bulan madu luar biasa " mereka sebagai contoh.

Monique Schierz-Crusius dan Stuart Binfield
Monique Schierz-Crusius dan Stuart Binfield telah bersama selama tiga tahun.

Supplied


"[Stuart] akan mengatur bagaimana kami akan berangkat dari Bandara Naples ke Positano, dan dia seperti, 'Kami hanya akan bergegas ke bandara begitu kami tiba di sana, tidak apa-apa,  Kami hanya akan naik kereta api dan kemudian kereta lain dan kereta lain '.

"Bagi saya itu seperti, 'Butuh waktu empat jam lagi', jadi saya hanya melihat sekeliling dan langsung memesan transportasi pribadi karena lebih mudah, dan itu sangat tepat dilakukan."

Stuart mengatakan dia suka memiliki keluarga di luar negeri karena memungkinkan dia mengenal sebuah budaya dalam waktu singkat.

Menurutnya dia juga berhasil berteman dengan banyak teman asing melalui istrinya, termasuk teman dekat yang tidak akan dia miliki berbaur didalam lingkaran yang sama jika seandainya saja situasinya berbeda.

Monique menggambarkan suaminya sebagai orang yang  "menghibur, seperti menonton Steve Irwin dari Discovery Channel".

"Terkadang ia bisa menjadi orang Australia yang hebat."

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris disini.