Skip to main content

Rancang Baju Dari Wol Australia, 3 Label Indonesia Bersaing di Kompetisi Internasional

Resepsi Peserta Woolmark Prize
Para desainer yang masuk nominasi Woolmark Prize 2016 yang mewakili Indonesia di tingkat Asia: Toton Januar (pojok kiri), MajorMinorMaha (3 berderet di tengah), Vinora (dua dari kanan), bersama dengan CEO Femina Group-Svida Alisjahbana, dan Dubes Australia Paul Grigson.

Nurina Savitri

IKLAN

Tiga label fesyen asal Indonesia turut berkompetisi dalam ajang penghargaan fesyen ‘Woolmark Prize’ untuk pertama kalinya. Merancang busana berbahan wol, kesempatan ini semakin membuka peluang kerjasama industri fesyen Indonesia-Australia.

Toton, Major Minor Maha dan Vinora adalah tiga label yang mewakili Indonesia di ajang Woolmark Prize 2016 untuk seleksi tingkat Asia.

Bersama 17 desainer Asia lainnya, ketiga perancang Indonesia ini akan memperebutkan dua kursi untuk maju ke tingkat global pada tanggal 11 Juli 2016.

‘Woolmark Prize’ sendiri adalah ajang penghargaan desain fesyen internasional yang dimulai sejak tahun 2008 di Paris dan diperuntukkan bagi label fesyen yang berumur kurang dari 6 tahun.

Untuk berpartisipasi dalam kompetisi ini, ketiga label diwajibkan untuk membuat koleksi dengan bahan baku wol merino (wol dengan tekstur terhalus), material yang jarang dipakai oleh desainer Indonesia.

“Kami memang diharuskan untuk memakai paling tidak 85-100% merino wool jadi dari situ kami coba untuk buat kain baru. Kami impor benang, kami memproduksi kain. Nah itu sesuatu yang baru,” tutur Ari Seputra dari Major Minor Maha.

“Kita kan melihat perancang Indonesia itu semakin kuat, tak lama lagi mereka akan menjadi pemain kawasan, dan kemudian pemain global. Ketika mereka masuk pasar di luar Indonesia, mereka harus siap dengan koleksi musim semi/musim panas dan musim gugur/musim dingin. Nah, untuk membuat koleksi musim gugur/musim dingin, mereka juga butuh akses ke wol,” jelas Svida Alisjahbana, CEO Femina Group, lembaga yang ditunjuk Australia untuk menyeleksi desainer Indonesia ke Woolmark Prize.

Ia lantas menceritakan, “Dari situ kami mengajak Woolmark, Departemen Perdagangan Australia dan Pusat Australia-Indonesia untuk memberi akses kepada desainer Indonesia memahami dan mempelajari wol. Keterlibatan ini semua berawal dari situ.”

“Sekarang faktanya, Indonesia masuk dalam kompetisi ini, dan kita adalah negara Asia Tenggara pertama yang masuk. Sementara lainnya berasal dari China, Jepang, Korea, India,” sambung Svida kepada Australia Plus ketika ditemui di acara pelepasan ketiga desainer di kediaman Dubes Australia, di Jakarta (23/6).

Salah Satu Finalis Woolmark Prize Tingkat Asia yang Mewakili Indonesia, Vinora
Pakaian pria rancangan desainer Indonesia, Vinora, salah satu label yang masuk nominasi Woolmark Prize 2016 tingkat Asia.

Supplied; Vinora

Menurut penuturan Toton Januar dari label ‘Toton’, meski ia beberapa kali membuat koleksi dari bahan wol, mengolah wol menjadi karya busana,sejatinya, begitu menantang.

“Jelas menantang apalagi kalau kita membuat bahan dari nol. Kita harus bisa tahu dari awal sumber benangnya...benang seperti apa yang bisa dipakai mana yang tidak, dimana membelinya dan mengenalkan benang-benang ini ke penenun karena mereka biasanya memakai benang-benang katun atau sutra,” ujar desainer yang sejak awal kemunculannya telah menyasar pasar internasional ini.

Ia mengaku, “Bekerja dengan wol adalah sesuatu yang berbeda ..belum lagi tenggat waktu kompetisi ini sempit sekali, makanya kami kerjakan semaksimal mungkin.”

Salah Satu Nominator Woolmark Prize 2016 Asal Indonesia, MajorMinorMaha
Gaun perempuan rancangan desainer Indonesia, MajorMinorMaha.

Supplied; MajorMinorMaha

Tantangan senada juga dirasakan oleh Major Minor Maha. Bagi mereka, membuat karya dari bahan wol adalah soal menggabungkan budaya dan teknologi. Belum lagi memperkenalkan ‘wol merino’ kepada para pihak pendukung produksi.

“Tantangan di lapangan berat sekali karena melibatkan trial n error, karena biasanya menggunakan benang sutra dan katun. Nah begitu kami menggunakan wol, ternyata mesinnya-pun nggak se-begitu mudah menerimanya. Karena kami kan bekerja dengan pengrajin dan pabrik yang profesional, nah mereka semua nggak ada yang punya pengalaman mengelola wol,” ungkap Inneke Margarethe dari Major Minor Maha.

“Jadi kami trial and error(uji coba)-nya cukup lama,” imbuhnya kepada Nurina Savitri di Jakarta.

Di samping memberi peluang berkembang, masuknya 3 label fesyen Indonesia di dalam ajang penghargaan ini memunculkan harapan lain.

“Saya tentu sangat senang karena Indonesia masuk ke ajang ini karena semua tahu ada potensi besar dari Indonesia dan Australia untuk mempererat kerjasama di bidang desain fesyen. Tak hanya saling ekspor tapi bersama-sama mengekspor ke seluruh dunia,” utara Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson.

Dubes Paul mengatakan, kualitas rancangan dan produksi desainer Indonesia selalu mengejutkan.

“Saya pikir mereka bisa mengejutkan siapa saja di kompetisi ini,” ujarnya tersenyum.    

Nominator Woolmark Prize Asal Indonesia-Toton
Busana perempuan rancangan Toton Januar.

Supplied; Toton Januar

Diterbitkan: 18:30 WIB 28/06/2016 oleh Nurina Savitri.