Skip to main content

Berkembangnya Pasar Wol Pikat Anak Muda Kerja di Peternakan

Sam Furler menganggap peternakan adalah rumahnya, meski 'hatinya ada di kota.'
Sam Furler menganggap peternakan adalah rumahnya, meski 'hatinya ada di kota.'

ABC: Lucy Robinson

Menyiapkan burger, membuat kopi dan bekerja berjam-jam di toko, adalah hal yang biasa dilakukan mahasiswa di Australia untuk mendapatkan uang sambil belajar.

Namun, Sam Furler, mahasiswa kedokteran melihat apa yang menurutnya kesempatan kerja yang lebih baik, yakni di tempat pencukuran bulu domba.

"Harga wol bagus saat ini," katanya.

Sam Furler, adalah mahasiswa kedokteran yang menjadi pencukur bulu domba.
Sam Furler, adalah mahasiswa kedokteran yang menjadi pencukur bulu domba.

ABC: Lucy Robinson

"Dan hal yang bagusnya adalah musimnya sesuai dengan jadwal di universitas."

"Universitas berjalan sampai sekitar bulan November, dan di saat yang sama menjadi musim paling sibuk untuk mencukur domba."

Sam, berusia 22 tahun asal Adelaide, adalah satu dari 16 anak-anak muda yang menyelesaikan kursus mencukur domba yang dilakukan oleh TAFE SA di kawasan Furner, Australia Selatan.

Dengan harga wol yang mencetak rekor minggu lalu, serta lebih banyak produsen di penjuru Australia yang kembali ke pasar wol yang sedang berkembang, telah mendorong banyak orang untuk belajar bagaimana mencukur bulu domba secara profesional.

Ketrampilan membuat kesempatan terbuka

Menyebut dirinya sebagai 'city boy at heart', atau hatinya selalu cinta hal yang berbau perkotaan, Sam dibesarkan dengan membantu mencukur domba di peternakan milik kakek dan neneknya di kawasan Australia Selatan.

Sambil membantu biaya untuk sekolah kedokteran, saat itu ia berharap belajar mencukur domba secara profesional agar mempersiapkan diri mengelola perternakan, yang nantinya akan diserahakn kepada orang tuanya.

"Pintu kesempatan tetap terbuka," katanya.

"[Saya] hanya menginginkan keterampilan dasar sehingga saya bisa pergi ke peternakan kakek nenek, mempraktikannya pada domba kami, mungkin menghubungi kontraktor ... dan mudah-mudahan bisa mencoba masuk industri ini sehingga saya bisa memiliki karir di pencukuran bulu domba."

Mr Furler mengatakan meski mencukur domba bukanlah pilihan pekerjaan paruh waktu yang umum dilakukan teman-teman sejawatnya, tapi ini memberinya istirahat dari membaca buku-buku.

"Saya suka bagian fisiknya," katanya.

"Sangat memuaskan di saat hari berkahir, saat tahu kita telah melakukan pekerjaan seharian yang baik."

Sulit menemukan pekerjaan di perkotaan

Jack Kirby, juga dari Adelaide, tertarik untuk mencukur domba setelah dia kesulitan mencari pekerjaan di perkotaan.

"Tidak banyak pekerjaan di Adelaide, jadi saya pikir mencoba [jadi pencukur domba]," katanya.

"Saya belum pernah berternak sebelumnya, tidak pernah melihat seekor domba. Senang sekali."

"Banyak kerja berat, tidak secara mental, tapi secara fisik, dan itu yang saya suka."

Beberapa pekerja pemula belum pernah miliki pengalaman di peternakan sebelumnya.
Beberapa pekerja pemula belum pernah miliki pengalaman di peternakan sebelumnya.

ABC: Lucy Robinson

Pria berusia 18 tahun tersebut tidak berharap mencukur domba dalam jangka panjang, tapi ia ingin memanfaatkan peluang sebaik mungkin di industri ini.

"Saya ingin melakukannya sebentar, seperti beberapa tahun, kemudian saya selalu ingin bergabung jadi tentara, sebagai infanteri," katanya.

"Saya hanya berpikir mencoba sesuatu, bekerja di bidang lain dan mudah-mudahan nanti bisa masuk tentara."

Terbuka bagi pemula

Instruktur pencukur domba di TAFE Australia Selatan, David Brooker mengatakan sebagian besar siswa yang mengikuti kursus berasal dari latar belakang pertanian. Tapi ia melihat hingga 20 persen siswanya berasal dari perkotaan.

"Di kelompok ini beberapa dari mereka belum pernah ke tempat cukuran domba, beberapa di antaranya belum memegang alat pencukur, tidak pernah memegang bulu domba," katanya.

"Hari kelima, semua siswa sudah mncukur seluruh domba, tanpa bantuan, dalam waktu kurang dari 10 menit, jadi ini sebuah prestasi bagi mereka."

Menurutnya, tingkat upah per jam yang tinggi dan pekerjaan bersifat santai, yang membuat kaum muda teratrik ke industri ini.

"Begitu Anda belajar cara menangani wol, mencukur, 'pen-up' dan tekan, Anda bisa berhenti dan mulai kapan pun Anda mau, selama memberitahu atasan."

Pekerjaan mencukur domba butuh pekerjaan fisik yang melelahkan.
Pekerjaan mencukur domba butuh pekerjaan fisik yang melelahkan.

ABC: Lucy Robinson

"Bagi pemula, upahnya $30 [sekitar Rp 300] per jam, jadi bukan sesuatu yang kecil."

Tapi David mengatakan meski industri wol sedang mengalami kebangkitan, pekerjaannya sendiri sulit.

"Tidak ada yang pernah mengatakan industri pencukuran domba itu mudah," katanya.

"Anda harus dapat secara mental dan fisik menghadapi kesulitannya, tapi semua orang di industri ini sangat antusias dengan pemula yang masuk industri ini."

"Mereka ke sini dan menikmatinya, kami sangat berharap mereka bisa bertahan."

Lihat artikelnya dalam bahasa Inggris di sini