Skip to main content

Baru Enam Belas Tahun, Josh Murray Produksi 55 Ribu Telur Per Minggu

A young man who is smiling stands with his hand lifted toward the camera holding two brown eggs
Josh Murray dengan beberapa telur dari 55 ribu yang dihasilkannya setiap minggu

ABC Rural: Nikolai Beilharz

Josh Murray baru berusia 16 tahun, dan memulai usaha untuk mendapatkan uang saku, namun sekarang menjual 55 ribu telur ayam setiap minggunya di Australia

Pada awalnya Josh hanya ingin memiliki mainan Lego lengkap.

Ketika itu dia berusia sembilan tahun, dan mulai menjual telur dari peternakan keluarga kepada tetangganya, sehingga dia bisa membeli Lego dengan tema Star Wars.

Sejak itu, usahanya berkembang dan sekarang peternakannya yang bernama Rainbow Eggs menghasilkan 55 ribu telur setiap minggunya, di lokasi di dekat Gisborne, sekitar satu jam berkendaraan di utara Melbourne.

Data terbaru menunjukkan bahwa rata-rata usia petani di Australia adalah 56 tahun, dan Josh Murray tentu saja tidak masuk dalam kategori tersebut.

"Dulu ketika kami pertama kali memiliki peternakan, kami selalu memiliki ayam. Mama yang memelihara dan saya hanya mengumpulkan telur." katanya.

"Setelah beberapa lama, saya ingin mendapatkan uang saku, dan saya melihat ayam bisa memberikan penghasilan tersebut."

"Saya kemudian men jual telur ke orang-orang di toko sekitar tempat tinggal kami. Saya kemudian menjual ke pasar mingguan,dan semuanya berkembang dari sana."

Sekarang Josh memiliki pasar yang jauh lebih besar, dengan telurnya dijual di tiga jaringan supermarket besar di Australia.

Namun dia mengatakan masih sering menjual telurnya di toko-toko lokal.

"Saya senang bertemu dengan pelanggan, namun saya juga meniikmati kerja di peternakan ayam." katanya.

Hundreds of brown chickens move out of a large metal shed onto green pastures.
Ayam sedang keluar dari kandang di peternakan Josh Murray

Nikolai Beilharz

Penekanan pada produksi telur beretika

Di peternakannya, Josh menggunakan kandang yang bisa dipindah ke sana kemari karena menggunakan roda sehingga sistem produksi telurnya "beretika".

"Saya ingin melakukan yang terbaik untuk ayam-ayam." katanya.

Kandang raksasa itu memiliki roda sehingga bisa dipindahkan ke tempat yang masih memiliki rumput segar, sehingga ayam-ayamnya bisa berkeliaran.

"Kami memindahkan kandang ini setiap bulan, sehingga ada cukup waktu bagi tahi ayam untuk menyuburkan tanah juga. Ini juga berarti ayam kami bisa berkeliaran di rerumputan yang segar."

A young man standing in a shed sorts eggs coming off a conveyer belt onto trays for sales.
Josh Murray sedang memilah telur yang akan dijual

Nikolai Beilharz

Kandang itu juga memiliki sistem dimana pasokan pakan dan air dilakukan secara otomatis.

Kandang itu bisa diatur untuk dibuka dan ditutup pada jam tertentu, guna memastikan ayam-ayam tersebut aman di dalam hari, dan juga tidak keluar terlalu pagi ketika cuaca terlalu dingin.

Menjalankan kandang itu memerlukan tenaga listrik, dan untuk mengurangi biaya, Josh Murray dan keluarganya memasang solar panel untuk menurunkan ongkos produksi.

Tenaga yang didapat dari panel solar ini juga digunakan untuk menjalankan pita berjalan di tengah kandang untuk mengumpulkan telur.

Ini memungkinkan Josh mengumpulkan semua telur dalam waktu 30 menit saja, bukannya dua jam seperti ketikadia menggunakan sistem manual di masa lalu.

"Saya merasa bahwa kita harus menjaga lingkungan sebagai ucapan terima kasih karena kebaikan alam selama ini kepada kami."

A group of brown chickens with red plumage, taken from above
Ayam-ayam yang dimiliki Josh Murray

Nikolai Beilharz

Diterjemahkan pukul 15: 35 AEST 12/7/2017 oleh Sastra Wijaya dan simak artikelnya dalam bahasa Inggris di sini